Sehari Melawan Skripsi (Part 1)

               Mata terasa berat untuk terbuka, kulihat sekitar dalam pandangan keburaman tampak tak ada cahaya. “Wah, kali ini saya bangun pagi”, pikirku. Saat hendak memejamkan mata, tak sengaja ku lihat jam menunjukkan 11.00. Ternyata kebiasaan kacau semester 8, jadwal mulai tidak teratur karena memang mata kuliah hanya tersisa Magang dan Skripsi. Dan ini waktu ketika selesai magang. Jadi tidak ada alasan untuk ku bangun pagi.

Saya memang tidak semangat untuk mengerjakan skripsi. Tidak ada gunanya, semangat yang dulu ada untuk menemukan sesuatu yang baru telah sirna sejak banyak yang bilang skripsi hanya sebagai syarat kelulusan, dan kita sebagai S1 hanya belajar menulis. Memang sesuatu yang membosankan membuang waktu untuk sebuah tulisan tak berguna, mending berdagang dan menghasilkan uang. Tulisan ini menggambarkan orang yang malas, mencoba melawan skripsi dengan deadline. Saya suka melakukan sesuatu yang penuh dengan ketegangan (padahal malas 😀 ).

ya, kenalkan nama saya rofiqi, biasa dipanggil rofiqi :D, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di kota terbesar kedua di Indonesia dan merupakan kota bonek. Kota apakah itu?. Jika jawaban anda adalah Pamekasan, maka anda harus kembali mengecek mbah google, karena saya sebenarnya ingin mengatakan kota kelahiranku, meskipun sebanarnya saya lahir di desa dan bukan kota. Jadi ingat teman SMP dulu yang menulis tempat lahirnya Palengaan :D… Perkenalannya sudah kan, kalau mau tahu lebih lanjut tenang saja, diakhir cerita ada nomer telpon *ehh…

Pertama, saya mengucapkan banyak mohon maaf jika tulisan ini amburadul karena saya memang tidak hobi dalam menulis, membaca novelpun tidak pernah karena di situ tidak ada gambar dan bikin ngantuk. Karena saya suka membaca komik, maka sebenarnya ada keinginan untuk menceritakan ini dalam bentuk komik tetapi apalah daya saya hanya bisa menggambar wajah Tsubasa dengan bentuk yang sama seperti yang diajarkan oleh teman waktu SMP, sampai sekarang itulah satu-satunya gambar yang bisa saya buat. jadi jika mata dan pikiran anda terbakar melihat tulisan ini, segera ditutup saja. Tulisan ini ada karena merupakan nazar (jika anda cari di mbah google dan menemukan nazar adalah suami musdalifah, maka cari yang lain) yang ku ucapkan atas terbunuhnya musuh utama saya yang bernama skripsi. Tapi hal yang positif adalah di sini tidak ada tulisan seperti skripsi yang mengharuskan banyak aturan.

Kembali ke laptop (jika anda menggunakan yang lain, maka kembali ke hp/tablet. Yang terpenting adalah kembalilah ke jalan yang benar). Hari terus berganti, jam 11.00 siang lagi (bukan yang tadi lho), kali ini 11 lebih 15 menit. Mandi 15 menit, kemudian pakai baju 10 menit, memakai minyak rambut dan menyemprotkan parfum 5 menit (ini cerita atau mau demo masak?). Oke, setelah semua selesai, saya siap menggeber sepeda motorku, bukan ke kampus, bukan menemui dosen pembimbing, tapi menuju ke supermarket untuk membeli bahan eksperimen. Bukan eksperimen penelitian, tetapi untuk menghasilkan suatu produk baru yang nantinya saya akan jual :D.

Brum brum brum (atau ngeng ngeng ngeng) bunyi sepeda motorku ku geber dengan kecepatan tinggi yaitu 20 km/jam 😀 (di dalam gang segitu sudah kenceng mas bro 😀 ). Keluar gang langsung ditunggu lampu merah. Saya berhenti tepat di belakang zebra cross, bukannya sok taat peraturan, tetapi jika berada di belakang zebra cross, kita lebih siap karena bisa melihat lampu hijau lebih cepat, jadi serobotnya lebih mentap nanti :D. Tetapi banyak juga yang sudah “mahir” dalam hal perlampumerahan. Mereka biasanya berada jauh di depan zebra cross tetapi tetap mengetahui kapan lampu hijau milik akan menyala nanti. Meskipun arah lampu lalu lintas sering diubah, entah mengapa insting mereka begitu kuat. Dan tibalah pada lampu hijau, dimana ada ritual yang tidak saya sukai. Jika anda sadari, setiap lampu hijau di kota ini pasti ada minimal 1 kendaraan yang membunyikan klakson. “Siap-siap pasang kuping dengan suara yang menjemukan” Gerutuku dalam hati. Tetapi tumben suara itu tidak ada kali ini. Tiba-tiba “ttiiiittttt” bunyi klakson mobil. Siapa yang melakukannya?. Ternyata yang melakukannya adalah saya, tak sengaja terpencet. “Sial, saya melanjutkan “tradisi” pasti ada klakson di lampu lalu lintas” gumamku.

Bersambung dulu (menulis itu ternyata membosankan)…. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s