Lora dan Putri Kardinal

taufiq

Matahari sebentar lagi akan terbenam di ufuk barat.Bias cahayanya akan sirna ditelan aura malam.Cahaya rembulan sudah tampak membayanginya,akan menggantikan matahari untuk membiaskan cahayanya di keheningan malam.Gemerlap bintang juga akan mengirinya, menghiasi gelapnya malam bersama mega.

Sore itu, santri Al-Huda tampak sibuk dengan kegiatan sehari-harinya, mengkaji fan ilmu fikih kepada ayahandaku, Kiai Mushlih. Metodenya yang unik, menambah semangat para santrinya untuk mengkontekstualisasikan turâts-khazanah keilmuan Islam klasik- ke era globalisasi.

Azan maghrib berkumandang di masjid Al-Huda. Kiai menutup kegiatan belajar-mengajarnya dengan doa. Para santri merapatkan saf untuk salat berjemaah. Setelah salat dan zikir, aku mendekati ayahandaku yang khusyuk dengan tasbih putihnya, di samping mimbar.

“Assalamu’alaikum,” ucapku.

“Wa’alaikum salam,” jawab ayahandaku.

“Ada apa Neil? Pasti mau izin!” Tebaknya dipenuhi senyuman.

“Ya, Abi” jawabku dengan senyuman juga, “Tadi pagi ada telepon dari Kepala Departemen Agama Pamekasan, katanya saya ditunjuk sebagai delegasi kabupaten, untuk mengikuti workshop nasional, tentang ‘Kerukunan Umat Beragama’ di Bogor,” terangku.

“Kira-kira, berapa hari?”

“Insya Allah, satu minggu.”

“Kamu ini sibuk sekali… ya! hati-hati di jalan,” candanya dengan sejurus nasehat.

“Mohon doanya,” jawabku sembari mencium tangannya dengan penuh khidmat dan beranjak pergi meninggalkannya.

Dari lubuk hatiku yang paling dalam, berat bagiku meninggalkan rumah dan pesantren yang berlokasi tak jauh dari kota Gerbang Salam, Pamekasan. Aku lahir di dunia pesantren, bahkan bisa dibilang aku adalah anak pesantren, karena ayahandaku sebagai pimpinan pesantren, mendidikku dari lahir sampai saat ini, mebentuk karakter ulama salâfus-shâlih, memperkaya cakrawala khazanah keilmuan Islam klasik dan memecahkan masalah-masalah kontemporer dengan aktualisasi turâts.

***

“Selamat Datang di Kabupaten Bogor”, hijau, asri dan sangat sejuk. Begitulah kesan pertamaku sampai di Puncak, Bogor. Sepertinya mata penuh kecerahan memandang hijaunya flora, penuh kedamian dengan asrinya lingkungan dan penuh kesejukan dengan ademnya suhu sekitar. Kurasakan kesempurnaan ciptaan-Muya Allah.

Tak terasa, vila Dwi Utami di depan mata. Vila sangat megah, tempat lokasi workshop nasional KUB diadakan. Terlihat peserta dari berbagai suku, ras, agama dan daerah dari seluruh Nusantara, menuju pintu utama vila Dwi Utami. Aku hanya mengikuti mereka, karena ini adalah pengalaman pertamaku mengikuti workshop nasional.

Di ruangan utama vila Dwi Utami, ada baleho berukuran 3×7 meter persegi, bertuliskan ‘Workshop Nasional Kerukunan Umat Beragama 2009’. Tampak panitia, dua wanita cantik berkrudung hijau menyambutku dan teman-teman lainnya.

“Selamat datang di workshop nasional KUB 2009, silahkan registrasi dulu! Isi formulirnya!” ucap salah satu panitia wanita itu, dipenuhi keramahan dan senyuman indah, sambil melayani peserta yang datang.

Setelah melengkapi administrasi workshop, aku diberi member-card, tas hitam bertuliskan “Workshop Nasional KUB 2009” dan kunci kamar beserta nomernya. Aku langsung chek in di kamar 19, lantai 3.

Wow!!! Kamar sangat megah, elegan dan dinamis, tampak masih kosong. Kamar berukuran 9×9 meter persegi ini, terdapat 3 kamar tidur, 1 kamar mandi, dan 1 ruang santai. Dilengakapi sofa, televisi, telepon, AC, kipas angin dan kulkas LG besar.

Kurebahkan badanku sejenak di kasur spring-bed putih yang tak pernah kujumpai di sebelumnya, relaksasi sejenak, menghilangkan rasa capek, setelah melakukan perjalanan dengan kereta api Surabaya-Gambir-Bogor.

Setelah cukup merebahkan badan, kubuka tas hitam yang dikasih oleh panitia tadi. Isinya buku catatan, agenda kegiatan, T-shirt workshop, jas, alat tulis-menulis, dan beberapa buku tentang toleransi beragama.

Kubaca buku yang berjudul “Peranan Tokoh Agama dalam Memperkokoh NKRI”. Larut dalam asyiknya membaca buku. Ada yang mengetok pintu kamarku mengagetkan kajianku. Kubuka pintu kamar, pemandangan yang tak biasa kulihat di kampungku, dua lelaki ras China berdiri tegak dengan jaket hitam dan celana jean sampai lutut.

“Salam sejahtera,” ucap lelaki itu.

“Silahkan masuk, peserta workshop ya!” Responku dihantui rasa keheranan.

“Ya, aku Andreas Piraldhy, panggil saja Andreas, dari SMA Khatolik Maluku Selatan,” ucapnya sambil mengulurkan kedua tangannya.

“Aku Dae Chun Haw, panggil saja Chun, dari SMK Cheng How Semarang,” ucap lelaki satunya, dengan mengulurkan kedua tangannya.

“Saya Muhammad Neil Author, panggil saja Neil dari SMA Ma’arif 1 Pamekasan,” jawabku, sambil bersalaman menyambut kedua tangannya satu per satu. Kupersilahkan mereka menempati 2 kamar tidur yang masih kosong, “Silahkan, istirahat dulu!” Saranku pada mereka.

Kulihat jam digital di HP-ku, menunjukkan jam 5.35 PM. Ku langsung menuju ke kamar mandi, menghilangkan gerahnya perjalanan tadi siang.

***

Azan maghrib menggema di kabupaten Bogor dan sekitarnya. Kupakai baju koko putih modis, songkok hitam dan sarung khas pesantren. Kubuka pintu kamar, menuju masjid yang kebetulan tak jauh dari vila. Di tengah perjalanan kujumpai pemandangan yang jauh berbeda dengan pesantren, gadis cantik blasteran China-Indonesia dengan tawa kecilnya. Mungkin melihat penampilanku yang aneh, menggunakan atribut khas pesantren. Aku hanya tersenyum manis.

“Assalamu’alaikum,” sorak gadis muslimah ayu berbusana muslim dan menenteng mukenah putih di tangan kanannya.

“Wa’alaikum salam,” jawabku.

“Mau solat berjema’ah di masjid ya!”

“Ya, kamu juga ya!” Tebakku.

“Ya, bareng ya! Nama kamu siapa? Delegasi mana?” Tanyanya dengan senyuman.

Setelah memperkenalkan nama dan asal sekolahku, ia tersenyumdanberkata.”Aku Nafisah, delegasi MAK Bahrul Ulum Jombang, tapi aslinya Wonosobo,” jawabnya.

“Lha! Kok bisa sekolah di MAK Bahrul Ulum Jombang?” responku dengan mengerutkan kedua alis hitamku.

“Ya, aku nyantri di Tambak Beras, jadi sekolahnya juga di sana. Kalau kamu kayaknya santri juga ya?”

“Owh. Gitu, Kalau saya tidak pernah nyantri, tapi saya hasil dididikan pesantren.”

“Owh. Jadi kamu putra kiai?”

“Bukan, saya ‘Lora’!”

“Apa itu ‘Lora’?”

Tak terasa masjid bertuliskan “Al-Ikhlas” sudah di depan mata. Aku sengaja tidak menjawab pertanyaan Nafisah. Mungkin karena istilah ‘Lora’ belum pernah didengar olehnya. Kuucapkan perpisahan kepadanya. Aku langsung menuju pintu utama masjid.  Sedangkan Nafisah menuju masjid melalui pintu utara, khusus wanita. Aku salat tahayyatul masjid sembari niat iktikaf, lalu dilanjutkan dengan salat magrib berjema’ah.

***

Sebelum fajar menyingsing, aku sempatkan salat tahajud seperti kebiasaan di pesantren. Azan subuh kembali menggema, aku langsung menuju masjid. Aku sangat betah di masjid Al-Ikhlas, selain masjidnya nyaman, juga megah, minimalis dan dilengkapi interior khas Timur Tengah. Kuputuskan untuk iktikaf sampai duha.

Setelah sarapan di kafetaria vila Dwi Utami, aku langsung mandi dan bersiap-siap untuk mengikuti agenda acara workshop, hari ini memang schedule-nya padat.

Tepat jam 08.00 WIB. workshop nasional ‘Kerukunan Umat Beragama’ dibuka dan diresmikan oleh Menteri Agama RI, ditandai dengan pemukulan gong besar. Para peserta yang notabenenya adalah pelajar tingkat SMA, gegap gempita menyambutnya. Semuanya larut dalam kerukunan, kebersamaan dan persatuan.

Acara selanjutnya adalah seminar yang nara sumbernya dari 6 agama sekaligus, dari Islam, Khatolik, Protestan, Hindu, Budha sampai Konghucu. Untuk seminar perdana ada dua narasumber, dari agama Islam Dr. Kh. Mafatihul Ilmi, MA. dan dari agama Kristen Protestan Dr. Pdt. Denial Kusumo.

Dr. Kh. Mafatihul Ilmi, MA. mengisi seminar perdana. Kiai muda berasal dari Kabupaten Pasuruan. Beliau alumnus Al-Ahgaff University, gelar pascasarjana didapat di Chichago University dan gelar doktoralnya di Maroko. Setelah menjelaskan tentang sakralitas Islam, beliau menutup dengan sebuah wacana…

“Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk mewujudkan peradaban masyarakat madani sehingga tercapainya kesejahteraan, ketentraman dan kesuksesan di dunia akhirat. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Islam sangat menghargai agama lain dan mengedepankan toleransi kehidupan antar-umat beragama. Seperti yang telah dilakukan Rasulullah saw. ketika membangun Kota Madinah, beliau membuat sebuah undang-undang untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara antar umat beragama, yang dikenal ‘Piagam Madinah’.

Mengenai isu yang menyatakan bahwa Islam adalah agama teroris itu tidak benar, Islam juga membenci segala bentuk aksi yang menjurus pada teror, intimidasi dan anarki. Bahkan, Islam juga memerangi terorisme. Jadi ketika ada orang Islam melakukan aksi terorisme itu bukan implementasi dari ajaran Islam yang sebenarnya, itu murni sebuah skenario Amerika dan sekutunya untuk menghancurkan stabilitas keamanan internasional.

Gerakan Islam Radikal sengaja didoktrin oleh Barat untuk melancarkan aksi terorisme. Sehingga timbul opini negatif dari agama-agama lain bahwa Islam adalah agama teroris. Terjadilah kericuhan, instabilitas keamanan, dan merusak kerukuan antarumat beragama. Hal ini tentunya merugikan dan merusak tatanan NKRI. Marilah kita sebagai umat beragama mengatakan ‘No Terrorism!’. Semoga peran generasi dan tokoh umat beragama bisa membantu pemerintah dalam memerangi terorisme.” Penjelasan Dr. Kh. Mafatihul Ilmi, MA. di depan peserta workshop yang berasal dari berbagai suku, ras, agama dan daerah dari berbagai wilayah Nusantara.

Peserta larut dalam penjelasan Dr. Kh. Mafatihul Ilmi, MA. Metode penyampaiannya yang unik, jelas, humoris dan bahasa yang komunikatif, menambah kekaguman peserta. Aku pun terkagum, karena belum pernah melihat nara sumber sesempurna beliau sebelumnya.

Narasumber kedua adalah Dr. Pdt. Denial Kusumo. Pendeta Protestan berdarah Batak, bermukim di Pontianak, Kalimantan Barat. Gelar sarjana strata satu sampai gelar doktoralnya di dapat di Harvard University.

Setelah panjang lebar menjelaskan sakralitas agama Kristen Protestan, Ia memunculkan opini tentang pentingnya kerukunan beragama…

“Melihat pluralitas agama di Indonesia, maka sangat dibutuhkan kerukunan dan kesatuan antar penganut agama. Oleh karena itu, kita perlu mengaplikasikan ‘Transcendent Unity of Religion’; kesatuan transendens agama-agama. Semua agama adalah benar, setiap agama hanya berbeda pada level eksoterik (aspek luar, seperti cara ibadah), tetapi akan bertemu pada level esoterik (aspek batin), karena agama adalah hasil budaya manusia.

Semua agama adalah jalan yang benar menuju Tuhan. Kristen, Islam, Hindu, Budha dan Konghucu ibarat piramida yang menuju puncak kebenaran yang sama. Karena all paths lead to same summit; semua jalan menujuk puncak yang sama.” Jelas Dr. Pdt. Denial Kusumo.

Setelah dua nara sumber menjelaskan materi seminar, moderator memberi kebebasan bagi peserta untuk bertanya, mengkritik dan sebagainya.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan, aku langsung mengacungkan tangan. Ada sekitar 8 peserta mengacungkan tangan. Namun moderator hanya membatasi 3 orang. Harapanku, semoga aku terpilih. Alhamdulillah, moderator memberi kesempatan kepadaku, dan dua orang lainnya.

“Terima kasih atas kesempatannya, saya Muhammad Neil Author dari SMA Ma’arif 1 Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Saya memiliki dua pertanyaan, pertanyaan pertama untuk Dr. Kh. Mafatihul Ilmi, MA., bagaimana sikap ideal dan moderat menurut perspektif Islam dalam menyikapi pluralitas agama di Indonesia sehingga terciptanya kerukunan umat beragama?

Pertanyaan kedua untuk Dr. Pdt. Denial Kusumo,Bukankah ketika kita mengaplikasikan teori ‘Transcendent Unity of Religion’ yang anda kemukan, akan menambah daftar konflik baru dalam hubungan umat beragama?” tanyaku.

Setelah memberi kesempatan kepada dua orang penanya lainnya, moderator memberikan kesempatan kepada nara sumber untuk menjawab dan menanggapi pertanyaan-pertanyaan audiensi.

“Menanggapi pertanyaan Author yang sangat berbobot sekali. Menurut perspektif Islam, seperti yang termaktub dalam ‘Piagam Madinah’. Islam adalah agama paling benar, namun sikap toleransi Islam terhadap agama-agama lain sangat tinggi. Islam sangat menghargai keyakinan agama lain, menghormati hak asasi kemanusiaannya, bahkan mendapatkan perlindungan dari umat Islam dengan syarat mereka tidak melakukan aksi penyimpangan, penganiyaan dan segala bentuk anti kemanusian.

Inilah sikap ideal dan moderat dalam perspektif Islam menanggapi pluralitas agama di Indoensia. Saya yakin ketika umat Islam menerapkan apa yang dicontohkan Rasulullah saw. dalam ‘Piagam Madinah’ di atas, akan tercipta stabilitas keamanan, persatuandan kerukunan antar umat beragama, sehingga dapat memperkokoh NKRI.” Jawab Dr. Kh. Mafatihul Ilmi, MA. penuh semangat.Aku dan audiensi lainnya, memberi applause atas jawabannya yang memuaskan.

“Menanggapi pertanyaan pertama, saya sebagai akademisi, aktivis dan pemuka agama harus bersikap arif, bijaksana, netral dan objektif. Lihat konflik Islam-Kristen di masa Perang Salib, hingga kini dampaknya masih terasa. Ini semua gara-gara adanya truth claim, perang klaim kebenaran antaragama-agama. Semuanya fanatik dengan agamanya sendiri. Marilah kita hilangkan fanatisme tersebut dengan teori ‘Transcendent Unity of Religion’,” jawab Dr. Pdt. Denial Kusumo dengan santai.

Setelah kedua narasumber menjawab semua pertanyaan audiensi, moderator memberi kesempatan kepada audiensi untuk menanggapi jawaban.

“Bagaimana dengan penanya pertama, apa ada tanggapan?” tawaran moderator kepadaku untuk memberi tanggapan.

“Jazakummullah khair, terima kasih banyak atas jawaban Bapak Dr. Kh. Mafatihul Ilmi, MA. yang sangat memuaskan saya dan audiensi.

Ucapan terima kasih juga kepada Bapak Dr. Pdt. Denial Kusumo atas jawabannya. Namun, ada sedikit kejanggalan, logika yang dipakai bapak adalah logika John Hick yang sebenarnya sudah banyak dibantah oleh ilmuwan-ilmuwan agama-agama. Melihat agama pada posisi netral yang dikenal dengan ideologi netral agama. Itu namanya posisi teologi yang berdiri di luar agama-agama lain, bahkan bisa dikatakan posisi agama baru. Masing-masing umat beragama yang sudah yakin dengan kebenaran teologi agamanya masing-masing, dipaksa untuk mengakui kebenaran teologi agama lain. Hal ini justru akan menambah daftar konflik baru, mengganggu ketentraman ideologi umat beragama dan merusak sakralitas setiap agama-agama.

Mengenai konflik Islam-Kristen pada masa Perang Salib, itu sebenarnya ada kepentingan politik dan ekonomi yang dibungkus dengan konflik antarumat beragama. Oleh karena itu, saya yakin kepada teman-teman workshop yang hadir dan umat beragama lainnya yang berakal sehat, tidak akan menerima teori dan logika John Hick yang menyesatkan teologi agama yang sudah ada, bahkan ini akan merusak hubungan intenal setiap agama dan merongrong keutuhan NKRI,” tanggapanku disambut dengan applause peserta workshop.

***

Setelah salat zuhur di masjid Al-Ikhlas, aku langsung menuju kafetaria. Nafisah dan cewek blesteran China-Indonesia sudah menungguku di pintu masuk kafetaria.

“Lora Neil! Ayo makan bareng kami!” pinta Nafisah penuh kelembutan.

Kutundukkan kepala, karena sejujurnya ini suatu yang tak lazim di pesantren, makan bersama wanita bukan muhrimnya.

“Ini bukan khalwah… kan! Kita tidak hanya berdua!” ketus Nafisah lagi, aku hanya menoleh dan tersenyum, Nafisah dan cewek itu juga tersenyum, sembari masuk kafetaria mengambil tempat duduk.

“Lora! Saya sudah mengetahui apa arti ‘Lora’ dari teman satu kamarku di vila tadi malam, kebetulan ia orang Madura juga, ternyata ‘Lora’ itu putra kiai hehehe…” tawa kecil Nafisah dengan senyuman manis. “Pantesan tadi waktu seminar perdana sangat hebat sekali, ini ada yang mau kenalan,” lanjutnya.

“Aku Tirza Freshtiany, dari SMA Protestan Jakarta,” bukanya dengan perkenalan.

Pelayan datang menghampiri kami, mengantarkan makan siang khusus peserta workshop.

Setelah memperkenalkan namaku, Tirza berkata, “Senang sekali berkenalan dengan orang hebat seperti Anda!!! Tadi aja…sudah menaklukkan doktor alumnus Harvard University,” pujinya, kembali dengan senyuman manis sambil menyantap makan siang di depannya.

“Biasa aja, pluralisme sudah menjadi kajian utama ‘Lingkar Aswaja IPNU’ di sekolahku,” jawabku.

“Jadi, kamu aktif di IPNU, aku aktif di IPPNU lho!” Nafisah memotong pembicaraanku dan Tirza.

“Ya, IPNU Cabang Pamekasan, kalau kamu IPPNU Cabang Jombang ya, Neng, Putri Pesantren Al-As’ariyah Wonosobo!” tebakku.

“Ya, kok kamu tahu!” Nafisah mengerutkan kedua alis hitamnya.Tampaknya kaget, heran dan penasaran, sempat menghentikan santapan siangnya.

“Ya, saya pernah baca opini kamu, di majalah Aulia.”

“Owh, Tirza ini, Putri Kardinal lho! Pejabat tinggi Vatikan yg diangkat oleh Paus untuk Indonesia,” Nafisah mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Senang sekali bisa bertemu dengan ‘Putri Kardinal’ secantikkamu, Tirza!” Pujianku padanya.Tampak pipinya memerah, salah tingkah. Ia hanya menunduk melanjutkan hidangan makan siang di depannya, mungkin ia malu atas pujianku.

Tiba-tiba Tirza mengangkatkan wajahnya, kembali dengan senyuman manisnya, “Ternyata kalian ini orang-orang hebat semua! Cendikiawan muda dan jurnalis,” pujiannya padaku dan Nafisah.

***

“Lora Neil! Sepertinya ‘Putri Kardinal’ menaruh hati padamu, ia terkagum atas kemampuan intelektualmu, ia terpikat atas ketegaran mentalmu, ia terlena atas etikamu,” curahan Nafisah padaku saat menuju ruang auditorium, tempat seminar kedua akan dilaksanakan.

“Masak sich, Neng!” ketusku.

Di pintu utama auditorium vila Dwi Utami, Tirza berdiri dengan bersandar ke tembok auditorium. Ia sesekali melempar senyuman ketika aku melihatnya. Mungkin apa yang dikatakan Nafisah benar. Sikap-sikapnya yang penuh perhatian padaku selama ini, bisa dibilang cintanya mulai bersemi.

Aku dan peserta workshop lainnya larut dalam penyajian dua narasumber dari Khatolik dan Hindu pada seminar kedua. Kemudian dilanjutkan seminar ketiga, narasumbernya dari Budha dan Konghucu. Seperti biasa, para narasumber menjelaskan sakralitas agama-agama mereka masing-masing. Tujuan utama workshop ini adalah untuk memperkokoh NKRI dengan toleransi antar umat beragama.

Setelah seminar selesai, kutuju masjid Al-Ikhlas untuk menunaikan salat duhur. Kulangkahkan kaki keluar dari vila. Ruas jalan tampak sepi, memang sekarang waktu yang tepat untuk istirahat dari lelahnya aktifitas.

Sepertinya ada orang yang membuntutiku, entah siapa? Kuteruskan langkahku, tanpa memperdulikan siapa pun. Orang itu semakin dekat, semakin mempercepat langkahnya. Tangannya memegang pundakku. Kulihat tangannya putih pucat, sepertinya ras China. Dengan refleks ia menciumkan tisu putih kepada hidung dan mulutku, brrrraaaakkkkk……

***

Dimana ini? Semuanya menjadi gelap? Bukannya aku di masjid, menunaikan salat zuhur.

“Lora Neil…”

Sepertinya saraf sensorik telingaku mendengar suara, suara begitu lembut. Pandanganku gelap. Kucoba melihat sekelilingku, tetap saja gelap. Di mana ini? Di mana?

“Lora Neil … hiks hiks hiks…”

Darah mulai mengaktifkan kinerja otakku, Kini saraf sensorik telingaku mendengar suara itu lagi, lebih jelas, tapi dengan isakan tangis. Siapa yang menagis? Kenapa ia menangis? Ada apa ini?

“Lora! saya, Putri Kardinal, sangat mencintaimu! Hiks hiks …”

Kinerja otakku sudah maksimal. Lagi! saraf sensorik telingaku mendengar suara itu lebih jelas lagi, sangat jelas. Kembali dengan isakan tangis, sepertinya Tirza. Kenapa ia menangis? Tangannya yang lembut memegang erat telapak tanganku. Ada apa ini?

Kilauan cahaya! Kubuka kelopak mataku perlahan, perlahan dan perlahan sembari menahan bias kialauan cahaya itu.

“Tirza, Nafisah! Alhamdulillah, Neil sudah siuman,” ucap Pak Fiman, ketua panitia workshop. Nafisah dan Tirza dengan refleks melihat wajahku yang baru saja siuman, sorotan mata Tirza begitu tajam memandangku, ia tersenyum dan mengusap basahan air mata di pipinya, akupun luluh dan tersenyum.

“Ada apa denganku?” lirihku penuh tanda tanya, perlahan Tirza melepaskan telapak tangannya, yang semula memegang erat telapak tanganku.

“Tadi, kamu ditemukan tergeletak di jalan, depan masjid Al-Ikhlas, Katanya dokter, ada yang membiusmu dengan pestisida,” jawab Pak. Firman.

“Lora Neil, aku sebagai Putri Kardinal ingin sekali menjadi permaisurimu Lora…” ucap Tirza penuh ketegaran. “Yang selalu menuntunku menuju cahaya ketentraman, kesuksesan & kesejahteraan di dunia & akhirat,” lanjutnya.

“Saya juga sangat mencintaimu, Putri Kardinal,” lirihku, yang hanya berbaring lemah di RSI An-Nida.

“Lora Neil! tuntun aku untuk membaca sahadat! aku tertarik pada Islam, ternyata Islam yang kukira selama ini agama teroris, agama kekerasan dan agama anarki. Ternyata setelah mengenalmu dan Nafisah, dapat mengubah pandanganku tentang Islam, Islam adalah agama etika, logis dan sakral,” ucap Tirza penuhketegasan.

Akupun yang berbaring lemah, semangat untuk duduk danbangkit, setelah mendengar kata-katanya.Kutuntun Putri Kardinal membaca kalimat tauhid.

“Asyhadu an lâIlâha illallâhu wa asyhadu anna Muhammadan rasulullâh”

 

Oleh : MH. TAUFIQ AHAZ

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s